Selamat Datang di Multi Bisnis

Friday, February 26, 2010


Saya gemar menengok kebun. Dan apa yang saya sebut kebun itu hanyalah sepetak tanah kecil tempat kami berencana membangun sebuah rumah. Karena berlokasi di sebuah lahan terbuka penuh semak, jadilah seluruhnya saya bayangkan sebagai kebun saya. Sore hari, adalah waktu paling saya sukai untuk berada di tempat ini.
Saya mengamati apa sesungguhnya yang menjadi faktor penarik saya kemari. Tidak sulit menjawab karena meskipun sepetak, tanah ini milik saya, untuk kali pertama pula. Walau sebenarnya semua tanah pasti milik negara dan setiap sertifikat sesungguhnya hanyalah bukti pinjaman kita kepada negara.

Tetapi alasan ini sungguh tak menghalangi rasa memiliki saya atas tanah ini. Jadi, kuncinya adalah rasa memiliki itu. Tak benar-benar memiliki sebenarnya tak mengapa asal sudah memiliki perasaan memiliki. Rasa itulah yang selalu menarik-narik saya ke tanah ini.

Tetapi faktor penarik itu ternyata berubah-ubah bentuknya. Benar, meskipun tanah itu menarik, tetapi menjadi kurang berdaya tarik lagi ketika cuma berupa tanah berlama-lama. Saya butuh memberinya batas. Cuma karena sudah berbatas saja bahagialah saya dan kepada batas itulah saya ingin selalu menengok dan menyapa.

Tetapi ketika tanah itu cuma ada pembatas, melemah lagi daya tariknya. Ia harus berpondasi. Maka saat pondasi itu dibuat, daya tariknya menguat lagi. Begitu terus hingga pondasi itu dibangun setahap demi setahap. Setiap tahapan menyimpan daya tarik tambahan.

Dan jika saya menghendaki daya tarik baru, bukan berarti yang lama menghilang. Seluruh daya tarik lama itu mengendap menjadi tabungan cuma butuh tambahan sampai batas yang tidak bisa ditentukan. Karenanya, ketika sebuah rumah telah menjadi, ia adalah kumpulan dari seluruh daya tarik yang satu sama lain tak bisa lagi dipisahkan. Untuk itulah kenapa rumah selalu menarik kita untuk pulang.

Di tanah sepetak itu belum benar-benar berdiri sebuah rumah. Tapi daya tariknya membesar dari waktu ke waktu. Ada yang saya tambahkan dengan sengaja, dan ada yang bertambah dengan sendirinya.

Belum lama ini saya mendapat tambahan daya tarik baru. Semua gara-gara saya datang kesorean dan hari telah bersiap menjadi petang. Tepat di antara sore dan petang itulah serangga-serangga malam mulai berdengungan, dan kebun yang semula terasa asri itu berubah menjadi seram.

Antara yang sepi dan yang asri ternyata ada di kebun ini. Serangga itu seperti menasihati bahwa siang dan malam berbeda konteksnya, bahwa di balik rasa aman selalu tersimpan bahaya. Tegasnya, serangga ini seperti hendak mengingatkan tentang adanya wajah ganda di setiap apa saja.
Apa yang saya anggap kemalangan dulu ternyata adalah kebaikan kini sementara ada yang saya anggap keberuntungan dulu adalah kemalangan kini dan apa saja yang saya alami di hari ini, selalu ada kebalikannya di masa depan. ''Menjalani hidup di hari ini sambil membayangkan hari depan, itulah kehati-hatian,'' kata serangga itu tentu setelah saya terjemahkan. (Prie GS)

[+/-] Selengkapnya...

didukung oleh :

didukung oleh :
MAU PASANG IKLAN HUB ALAMAT KAMI: JL.Raya Keling-kelet RT 12/01 Karanganyar - Jlegong,Jepara 59454 Tel(0291)579228,e-mail, radioviafm@yahoo.com

OBAT GANTENG MUJARAB